- 1. PENGANTAR : REALITA INTERNET
Internet adalah jaringan global antarkomputer untuk berkomunikasi
dari suatu lokasi ke lokasi lain di belahan dunia. Dalam internet
terdapat berbagai macam informasi, baik yang baik maupun yang buruk,
yang benar maupun yang tidak. Semua informasi itu dapat diakses lewat
internet. Penggunaan internet berkembang dengan pesat. Kini masyarakat
dapat dengan mudah mengakses internet di warnet atau melalui laptop
dengan modem ataupun
wireless-connected, bahkan lewat HP.
Jumlah pengguna internet pun terus bertambah. Berdasarkan perhitungan
Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) terdapat sekitar
25 juta pengguna internet. Peningkatan pengguna internet diprediksi akan
terus meningkat sekitar 25 persen setiap tahunnya. Departemen
Komunikasi dan Informatika mengemukakan, sekitar 50% penduduk Indonesia
pada tahun 2015 yang diperkirakan berjumlah 240 juta jiwa, atau sebanyak
120 juta jiwa, diharapkan sudah terhubung dan mampu menggunakan
internet. Harapan tersebut sesuai dengan deklarasi World Summit On
Informastion Society (WSIS) tahun 2003, dengan point terpentingnya
adalah pada tahun 2015 sekitar 50% penduduk dunia harus memiliki akses
informasi yang terhubung dan mampu menggunakan internet. Sebuah data
menunjukkan bahwa dari jumlah pengguna internet di atas, rata-rata
pengguna internet di perkotaan 60% adalah di bawah 30 tahun. Artinya,
para pengguna itu adalah anak-anak dan remaja. Internet pun lalu
berpengaruh terhadap perkembangan dan pertumbuhan mereka, khususnya para
remaja.
- 2. PENGARUH INTERNET TERHADAP PERKEMBANGAN REMAJA
Pengaruh internet terhadap perkembangan remaja dapat dilihat lewat
empat parameter yakni, perkembangan fisik, perkembangan kognitif,
perkembangan emosional, dan perkembangan sosial.
Seorang remaja pada masanya mengalami perubahan-perubahan pada tubuh,
otak, kapasitas sensoris dan keterampilan motorik. Perubahan-perubahan
itu merupakan peralihan dari fisik anak-anak menuju fisik orang dewasa.
Fisik seorang remaja bergerak menuju kematangan. Tanda paling mencolok
dari perkembangan fisik remaja adalah perkembangan alat-alat genital,
baik yang primer dan sekunder. Dalam hal ini internet dapat merangsang
pertumbuhan fisik remaja. Situs-situs vulgar,
cybersex yang
berisi materi-materi yang berbahaya secara tidak langsung merangsang
pertumbuhan dan perkembangan seksualitas seorang remaja. Dalam hal ini
peran orang tua sangat penting untuk memberi pemahaman terhadap
perkembangan seksualitas remaja.
Meskipun demikian, kecanduan internet juga dapat berdampak buruk
bagi kesehatan fisik seorang remaja bahkan dapat mengganggu perkembngan
fisiknya. Dampak-dampak buruk itu antara lain; 1) Makan menjadi tidak
teratur; 2)
Tidur menjadi tidak teratur; 3) Kelelahan fisik.
Para remaja sangat aktif membangun dunia kognitifnya. Mereka sudah
mempunyai pola pikir sendiri alam menanggapi masalah, memilah-milah dan
mengorganisir ide-ide dan menciptakan ide baru. Kemampuan remaja dalam
belajar, memori, menalar, berpikir dan bahasa sangat berkembang sehingga
mereka dapat berpikir secara abstrak atau tentang sesuatu yang abstrak.
Remaja mampu berspekulasi. Mereka mulai mempertanyakan keabsahan
pemikiran yang ada dan mempertimbangkan banyak alternatif pemikiran yang
lain sehingga seringkali mereka mengalami konflik pemahaman.
Internet dapat menjadi salah satu sarana remaja memperoleh informasi
serta jawaban-jawaban dari masalah yang dihadapi. Internet dapat
memperluas wawasan berpikir remaja. Akan tetapi, apabila seorang remaja
kecanduan internet, ia menjadi terikat pada internet. Internet lalu
dijadikan satu-satunya sumber kebenaran. Seorang remaja tidak lagi mampu
membedakan hal-hal mana yang nyata dan hal-hal mana yang maya. Baginya
yang maya juga nyata. Remaja menjadi kehilangan pola pikirnya sendiri.
Pola pikirnya sangat dipengaruhi pola pikir yang ada dalam internet.
Masa remaja merupakan masa yang penuh gejolak bagi remaja. Ketegangan
emosi meninggi karena adanya perubahan fisik dan kelanjar, pencarian
identitas diri, serta konflik-konflik sosial. Selain itu, remaja sangat
rentan terhadap pendapat orang lain tentang dirinya. Remaja sangat
memperhatikan dirinya sendiri. Dalam diri remaja juga mulai timbul rasa
cinta dan kasih sayang terhadap oranglain, khususnya lawan jenis.
Internet dapat membantu perkembangan emosi seorang remaja. Remaja
dapat melampiaskan segala perasaan yang ada dalam dirinya dengan
berbagai cara seperti lewat situs jejaring sosial,
Facebook atau
Twiter.
Remaja dapat menampilkan diri sesuai yang ia inginkan dalam internet.
Akan tetapi, kecanduan internet dapat mengganggu perkembangan emosi
remaja. Kecanduan internet dapat mengakibatkan gangguan mental seperti;
1)
Online Intermittent Explosive Disorder (OIED), gangguan kepribadian berupa emosi yang meledak-ledak saat online; 2)
Low Forum Frustration Tolerance (LFFT), mencari-cari kepuasan segera atau penghindaran dari rasa sakit dengan segera; 3)
Munchausen Syndrom,
membuat kebohongan, menirukan, menambah buruk suatu keadaan, atau
mempengaruhi diri sendiri agar sakit dengan tujuan diperlakukan seperti
orang sakit; 4)
Online Obsessive-Compulsive Personality Disorder (OOCPD), gangguan kepribadian yang tergoda untuk memaksa orang lain pada saat online khususnya masalah bahasa; 5)
Low Cyber Self-Esteem (LCSE) atau penghargaan terhadap diri sendiri yang rendah; dan 6)
Internet Asperger’s Syndrome,
hilangnya semua aturan sosial dan empati pada diri seseorang,
disebabkan tanpa alasan selain hanya secara kebetulan berhadapan dengan
sebuah benda mati; berkomunikasi via papan tombol dan monitor pada suatu
waktu.
Pada masa remaja, seorang remaja mulai melepaskan diri dari orang
tua. Mereka mulai menyesuaikan diri dengan lawan jenis. Kelompok teman
sebaya sangat berpengaruh dalam pergaulan remaja.
Internet dapat membantu remaja dalam bersosialisasi. Internet
memudahkan remaja menjalin relasi dengan teman ataupun lawan jenis.
Jarak dan waktu tidak lagi menjadi halangan dalam hal komunikasi. Akan
tetapi, sebuah penelitian menggungkapkan bahwa seorang remaja yang
kecanduan internet cenderung mengalami penurunan keinginan untuk
berkomunikasi secara langsung, tatap muka, khususnya dengan keluarga.
Lebih dari itu, sebenarnya internet telah membatasi pergaulan seorang
remaja. Remaja yang kecanduan internet hanya bisa berelasi dengan mereka
yang juga mampu mengakses internet. Remaja lalu sangat selektif dalam
memilih teman. Relasi remaja yang sebenarnya sangat luas dipersempit.
- 3. PENUTUP : INTERNET, SUMBER MASALAH ?
Banyak orang berpendapat bahwa internet membawa pengaruh buruk bagi
remaja. Akan tetapi, opini ini harus dikritisi. Internet tidak selamanya
berdampak negatif. Internet juga memberi banyak manfaat yang membantu
perkembnagn seorang individu, khususnya remaja. Dampak negatif itu mucul
ketika seorang pengguna internet kecanduan internet yang disebut
sebagai
Internet Addiction Disorder (IAD). Kecanduan
inilah yang memunculkan dampak negatif dalam perilaku seorang pengguna
internet. Kecanduan ini yang menjadi masalah dalam penggunaan internet.
Adalah tugas para orang tua, pendidik, dan orang yang tahu akan bahaya
kecanduan internet untuk mencegah para remaja menjadi kecanduan
internet.
0 komentar: